|
SEPENGGAL KISAH BERSAMANYA
|
Siang itu tepatnya tanggal 14 Februari 2012 aku sudah lama
menunggu tanggal itu. Valentine! Semua remaja menyambutnya dengan gembira,
begitu juga denganku. Berbagai ucapan masuk di kontak pesan masuk pada telpon
genggamku. Semuanya terjadi begitu saja sebelum aku menerima pesan singkat dari
nomor yang tidak aku kenal. “Happy Valentine dek” isi pesan singkat dari nomor
yang tidak ku kenal tersebut. Ingin sekali aku membalas aku membalas pesan
singkat tersebut, namun berhubung pulsa dalam telpon genggamku sekarat alias
tidak ada, akupun tak merespon pesan tersebut. Sampai akhirnya kira-kira jam 7
malam aku mendapat telpon dari nomor yang tak ku kenal tersebut. Dengan
perasaan yang sangat penasaran aku mengangkat telpon itu. “Halo.. Selamat
malam” sapa seorang pria dari seberang. “Iya. Selamat malam juga. Maaf... anda
siapa dan dari mana mendapatkan nomorku?” jawabku penuh tanya. “Hahaha... masak
lupa sama saya?! Saya teman facebook kamu!” Jawabnya dipenuhi tawa. “Teman
facebook? Yang mana? Saya mempunyai banyak teman facebook” jawabku sembari
mengingat-ingat teman facebookku. “Endhi!!! Yang punya nama Facebook Endhi
Mangesa Panggeso! Ingat gak?” jawabnya dengan nada-nada sok akrab. “Ohh. Endhi
toh! Kenapa gak bilang dari tadi! Hehehe” Seruku sambil tertawa. Begitu lama
aku berbicara dengannya melalu telpon genggamku, sampai disaat aku mengingat
bahwa aku melupakan waktu makan dan waktu belajarku. Akhirnya ku putuskan untuk
mengakhiri obrolan kami. Diapun menerimanya dan berjanji akan menelpon lagi
dilain waktu. Saat itu aku langsugn tidur tanpa mengisi perutku dengan makan
malam.
Pagi hari telah tiba, matahari perlahan memunculkan cahaya
terangnya di ufuk timur. Namun tidak denganku, aku masih tertidur pulas
diantara boneka kodok dan bantal kesayangku. Sampai disaat aku mendengar
teriakan mama. “Yoyo!! Bangun!! Apa kamu tidak ke sekolah??!! Udah jam 06.30!!”
teriak mama yang berusaha membangunkanku di balik pintu kamarku yang sengaja
aku kunci. “Iya... Tunggu!!” jawabku sedikit malas. Aku langsung melompat dari
tempat tidurku dan segera meraih handuk yang ada di gantungan dekat lemari. 15
menit berlalu namun aku masih berada di kamar mandi sembari mendengar lagu yang
diputar keras oleh kakakku. 20 menit aku habiskan hanya di kamar mandi. Aku
langsung keluar dari kamar mandi dan memakai seragam sekolah. Aku keluar kamar
dan pamit kepada orang tuaku dan segerah berangkat sekolah. Satu harian di
sekolah membuatku jenuh dan berniat untuk tidak langsung pulang ke rumah.
Siang itu setelah pulang sekolah aku tak langsung pulang ke
rumah, melainkan pergi ke tempat nongrong kesukaanku. “Kamu dimana dek? Aku
lagi di tempat tongkronganmu! Cepat kesini!” pesan singkat dari Endhi yang
membuatku kaget. “Aku di tempat biasa aku nongkrong” jawabku. Pada saat itu aku
tak menemui seorangpun kecuali seorang polisi muda yang sedari tadi
memperhatikanku. “Hai dek...!” polisi yang ternyata Endhi itu menyapaku. “Hai
juga kak. Tumben amat!! Gak tugas??” jawabku. “Lagi istirahat dek!” jawabnya
dia lagi. Aku berbicara agak lama dengannya. Hari-hariku saat itun juga
berubah, aku telah mendapat seorang sahabat dan belajar berhenti menulis diary.
Diary yang kata kak Endhi adalah kerjaan cewek aku coba untuk hentikan. Aku
sangat bahagia mendapatkan seorang sahabat yang sangat mengerti aku dan selalu
memberi nasihat kepadaku. Endhi itu adalah seorang anak tunggal dari keluarga
yang sangat berkecukupan. Di umurnya yang baru 25 tahun ia sudah menyandang
pangkat Briptu. Mungkin buat orang lain itu biasa saja, namun bagiku itu sudah
sangat baik. Dia orangnya lucu, humoris, ramah, perhatian sama orang tua dan
temannya, serta rajin beribadah. Dia seorang muslim, sedangkan aku seorang
kristen. Aku tak pernah mempermasalhkan soal agama, umur, dan profesi seseorang
utnuk menjadi sahabat atau temanku.
14 maret 2013 adalah satu bulan sku bersahabat dengan Endhi.
Kami membuat acara kecil-kecilan bersama beberapa rekannya dan teman-temanku.
Tak lupa dia membawa pacarnya ikut dalam pesta itu. Dia sangat serasi dengan
wanita itu, namun aku menaruh curiga kepada wanita itu. Namun kecurigaanku itu
serasa sirna menilhat senyuman bahagia dari raut muka kak Endhi, aku tak ingin
mengganggu kebahagiaan sahabatku ini hanya karena kecurigaan ini. “Biarkan saja
ahh.. itukan udah pilihan dia, semoga aja wanita itu bisa membuat sahabatku
bahagia... aminnn...”gumanku dalam hati kecilku. Aku tak pernah menyangka bisa
besahabat baik dengan seorang yang berbeda
10 tahun lebih tua dariku. Aku sangat bahagia bisa bersahabat dengannya. Sampai
suatu ketika aku mendengar kabar yang kurang baik dari orang tua kak Endhi.
Endhi ternyata mengidap penyakit kanker hati stadium akhir. Aku sangat sedih
mendengar hal tersebut. Mulai saat itu sosok wanita yang kak Endhi banggakan
itu tak pernah memunculkan batang hidungnya dan menghilang bagai ditelan bumi.
Aku sangat kesal dengan wanita itu. Disaat kak Endhi bahagia dia ada, sedangkan
disaat dia telah mengetahui segalanya dia tak ada menemani sahabatku itu. Aku
sangat sedih dengan kejadian ini, namun kusembunyikan rasa sedih ini jika
sedang bersama dengan teman sekolah maupun di hadapan kak Endhi. Aku sangat
kasihan kepadanya, namun apa yang bisa ku perbuat? Hanya doa dan semangat yang
bisa aku berikan kepadanya. Mulai saat itu aku selalu membujuknya untuk
operasi, namun hasilnya nihil dia tak pernah mau mendengarkanku. Sampai
akhirnya sahabat yang sangat ku kasihi dan sayangi ini menghembuskan nafas
terakhirnya di Rumah Sakit Wahidin Makasar pada tnggal 20 Maret 2012. Betapa
sedihnya yang aku rasakan saat itu. Orang yang menjadi sahabat dan telah aku
anggap sebagai saudaraku, pergi untuk selama-lamanya dari hidupku dan dari
dunia ini. Perasaan sedih, marah dan seakan tidak menerima semua ini yang aku
rasakan. Yang sangat aku sedihkan ialah disaat pemakamannya sosok wanita pujaan
hati kak Endhi tak juga memunculkan diri untuk sekedar ikut berkabung. Aku
sangat sedih dengan hal itu.
Hari-hari ku jalani seperti yang dulu lagi, tanpa sahabat dan
orang yang mengerti aku serta selalu menasehatiku. Saat itu aku kembali seperti
yang dulu, hanya bisa bersabahat dengan buku harian. Tak peduli dengan semua
apa yang dikatakan orang kepadaku. Mulai saat itu hanya batu nisan dan foto
yang bisa ku tatap untuk mengingatnya. Endhi Mengesa Panggeso sahabatku,
tenanglah kini dirimu di alam sana. Salam rindu dari sahabatmu ini. Mulai saat
itu aku tak pernah ingin memiliki sahabat. Aku hanya ingin berteman, karena
sahabat sejatiku hanya kamu, Endhi.
Semoga dirimu disana.
Semoga dirimu disana.
Kan
‘kan baik-baik saja
Untuk
selamanya
Di
sini aku kan selalu rindukan dirimu
Wahai
sahabatku..
Rindukan
dirimu.
Lagu
itu selalu aku dengarkan dan selalu membuatku teringat dengan sahabat sejatiku
itu. Endhi, your my friend forever.
Tak ada yang bisa menggantikan dirimu di hidupku, hatiku, dan sepanjang masa.
Salam rindu untukmu sahabatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar