Rabu, 22 Mei 2013

Pengalamanku



SEPENGGAL KISAH BERSAMANYA
Namaku Nehemia Mangenda yang paling akrab disapa Yoyo. Aku berumur 16 tahun dan bersekolah di SMA N 1 Makale. Aku adalah seorang anak bungsu dari 4 bersaudara. Aku mempunyai sebuah pengalaman yang sangat berkesan dan tak akan pernah aku lupakan. Kurang lebih setahun yang lalu aku adalaha seorang pria yang memiliki kegemaran menulis buku harian atau yang paling populer kita dengar dengan kata Diary. Ya! Diary adalah salah satu sara pelampiasan isi hatiku saat itu. Tiap hari aku selalu menulis diary jika sedang tidak sibuk atau sedang belajar. Sempat terbesit dalam pikiranku motto hidup baru yaitu “Diary is my seceond life” yang berarti diary hidup keduaku.
Siang itu tepatnya tanggal 14 Februari 2012 aku sudah lama menunggu tanggal itu. Valentine! Semua remaja menyambutnya dengan gembira, begitu juga denganku. Berbagai ucapan masuk di kontak pesan masuk pada telpon genggamku. Semuanya terjadi begitu saja sebelum aku menerima pesan singkat dari nomor yang tidak aku kenal. “Happy Valentine dek” isi pesan singkat dari nomor yang tidak ku kenal tersebut. Ingin sekali aku membalas aku membalas pesan singkat tersebut, namun berhubung pulsa dalam telpon genggamku sekarat alias tidak ada, akupun tak merespon pesan tersebut. Sampai akhirnya kira-kira jam 7 malam aku mendapat telpon dari nomor yang tak ku kenal tersebut. Dengan perasaan yang sangat penasaran aku mengangkat telpon itu. “Halo.. Selamat malam” sapa seorang pria dari seberang. “Iya. Selamat malam juga. Maaf... anda siapa dan dari mana mendapatkan nomorku?” jawabku penuh tanya. “Hahaha... masak lupa sama saya?! Saya teman facebook kamu!” Jawabnya dipenuhi tawa. “Teman facebook? Yang mana? Saya mempunyai banyak teman facebook” jawabku sembari mengingat-ingat teman facebookku. “Endhi!!! Yang punya nama Facebook Endhi Mangesa Panggeso! Ingat gak?” jawabnya dengan nada-nada sok akrab. “Ohh. Endhi toh! Kenapa gak bilang dari tadi! Hehehe” Seruku sambil tertawa. Begitu lama aku berbicara dengannya melalu telpon genggamku, sampai disaat aku mengingat bahwa aku melupakan waktu makan dan waktu belajarku. Akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri obrolan kami. Diapun menerimanya dan berjanji akan menelpon lagi dilain waktu. Saat itu aku langsugn tidur tanpa mengisi perutku dengan makan malam.
Pagi hari telah tiba, matahari perlahan memunculkan cahaya terangnya di ufuk timur. Namun tidak denganku, aku masih tertidur pulas diantara boneka kodok dan bantal kesayangku. Sampai disaat aku mendengar teriakan mama. “Yoyo!! Bangun!! Apa kamu tidak ke sekolah??!! Udah jam 06.30!!” teriak mama yang berusaha membangunkanku di balik pintu kamarku yang sengaja aku kunci. “Iya... Tunggu!!” jawabku sedikit malas. Aku langsung melompat dari tempat tidurku dan segera meraih handuk yang ada di gantungan dekat lemari. 15 menit berlalu namun aku masih berada di kamar mandi sembari mendengar lagu yang diputar keras oleh kakakku. 20 menit aku habiskan hanya di kamar mandi. Aku langsung keluar dari kamar mandi dan memakai seragam sekolah. Aku keluar kamar dan pamit kepada orang tuaku dan segerah berangkat sekolah. Satu harian di sekolah membuatku jenuh dan berniat untuk tidak langsung pulang ke rumah.
Siang itu setelah pulang sekolah aku tak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke tempat nongrong kesukaanku. “Kamu dimana dek? Aku lagi di tempat tongkronganmu! Cepat kesini!” pesan singkat dari Endhi yang membuatku kaget. “Aku di tempat biasa aku nongkrong” jawabku. Pada saat itu aku tak menemui seorangpun kecuali seorang polisi muda yang sedari tadi memperhatikanku. “Hai dek...!” polisi yang ternyata Endhi itu menyapaku. “Hai juga kak. Tumben amat!! Gak tugas??” jawabku. “Lagi istirahat dek!” jawabnya dia lagi. Aku berbicara agak lama dengannya. Hari-hariku saat itun juga berubah, aku telah mendapat seorang sahabat dan belajar berhenti menulis diary. Diary yang kata kak Endhi adalah kerjaan cewek aku coba untuk hentikan. Aku sangat bahagia mendapatkan seorang sahabat yang sangat mengerti aku dan selalu memberi nasihat kepadaku. Endhi itu adalah seorang anak tunggal dari keluarga yang sangat berkecukupan. Di umurnya yang baru 25 tahun ia sudah menyandang pangkat Briptu. Mungkin buat orang lain itu biasa saja, namun bagiku itu sudah sangat baik. Dia orangnya lucu, humoris, ramah, perhatian sama orang tua dan temannya, serta rajin beribadah. Dia seorang muslim, sedangkan aku seorang kristen. Aku tak pernah mempermasalhkan soal agama, umur, dan profesi seseorang utnuk menjadi sahabat atau temanku.
14 maret 2013 adalah satu bulan sku bersahabat dengan Endhi. Kami membuat acara kecil-kecilan bersama beberapa rekannya dan teman-temanku. Tak lupa dia membawa pacarnya ikut dalam pesta itu. Dia sangat serasi dengan wanita itu, namun aku menaruh curiga kepada wanita itu. Namun kecurigaanku itu serasa sirna menilhat senyuman bahagia dari raut muka kak Endhi, aku tak ingin mengganggu kebahagiaan sahabatku ini hanya karena kecurigaan ini. “Biarkan saja ahh.. itukan udah pilihan dia, semoga aja wanita itu bisa membuat sahabatku bahagia... aminnn...”gumanku dalam hati kecilku. Aku tak pernah menyangka bisa besahabat baik dengan  seorang yang berbeda 10 tahun lebih tua dariku. Aku sangat bahagia bisa bersahabat dengannya. Sampai suatu ketika aku mendengar kabar yang kurang baik dari orang tua kak Endhi. Endhi ternyata mengidap penyakit kanker hati stadium akhir. Aku sangat sedih mendengar hal tersebut. Mulai saat itu sosok wanita yang kak Endhi banggakan itu tak pernah memunculkan batang hidungnya dan menghilang bagai ditelan bumi. Aku sangat kesal dengan wanita itu. Disaat kak Endhi bahagia dia ada, sedangkan disaat dia telah mengetahui segalanya dia tak ada menemani sahabatku itu. Aku sangat sedih dengan kejadian ini, namun kusembunyikan rasa sedih ini jika sedang bersama dengan teman sekolah maupun di hadapan kak Endhi. Aku sangat kasihan kepadanya, namun apa yang bisa ku perbuat? Hanya doa dan semangat yang bisa aku berikan kepadanya. Mulai saat itu aku selalu membujuknya untuk operasi, namun hasilnya nihil dia tak pernah mau mendengarkanku. Sampai akhirnya sahabat yang sangat ku kasihi dan sayangi ini menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Wahidin Makasar pada tnggal 20 Maret 2012. Betapa sedihnya yang aku rasakan saat itu. Orang yang menjadi sahabat dan telah aku anggap sebagai saudaraku, pergi untuk selama-lamanya dari hidupku dan dari dunia ini. Perasaan sedih, marah dan seakan tidak menerima semua ini yang aku rasakan. Yang sangat aku sedihkan ialah disaat pemakamannya sosok wanita pujaan hati kak Endhi tak juga memunculkan diri untuk sekedar ikut berkabung. Aku sangat sedih dengan hal itu.
Hari-hari ku jalani seperti yang dulu lagi, tanpa sahabat dan orang yang mengerti aku serta selalu menasehatiku. Saat itu aku kembali seperti yang dulu, hanya bisa bersabahat dengan buku harian. Tak peduli dengan semua apa yang dikatakan orang kepadaku. Mulai saat itu hanya batu nisan dan foto yang bisa ku tatap untuk mengingatnya. Endhi Mengesa Panggeso sahabatku, tenanglah kini dirimu di alam sana. Salam rindu dari sahabatmu ini. Mulai saat itu aku tak pernah ingin memiliki sahabat. Aku hanya ingin berteman, karena sahabat sejatiku hanya kamu, Endhi.
          Semoga dirimu disana.
Kan ‘kan baik-baik saja
Untuk selamanya
Di sini aku kan selalu rindukan dirimu
Wahai sahabatku..
Rindukan dirimu.

Lagu itu selalu aku dengarkan dan selalu membuatku teringat dengan sahabat sejatiku itu. Endhi, your my friend forever. Tak ada yang bisa menggantikan dirimu di hidupku, hatiku, dan sepanjang masa. Salam rindu untukmu sahabatku.